PH45.id, Jakarta Senin (02/03/2026) – Eskalasi konflik antara Israel-Amerika Serikat dan Iran, bisa berdampak besar pada ekonomi global, terutama pada harga minyak dunia.
Jika konflik ini terus meningkat, ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:
– Skenario Perang Terbatas: Konflik hanya terjadi di Gaza, harga minyak naik sekitar 4 Dolar AS per barel, dan pertumbuhan ekonomi dunia turun 0,1%.
– Skenario Perang Proxy: Konflik meluas ke Lebanon, Suriah, dan Tepi Barat, harga minyak naik 8 Dolar AS per barel, dan pertumbuhan ekonomi dunia turun 0,3%.
– Skenario Perang Langsung: Konflik melibatkan Israel dan Iran secara langsung, harga minyak bisa melonjak hingga 64 Dolar AS per barel, dan pertumbuhan ekonomi dunia turun 1,0%.
Dampak jika Selat Hormuz ditutup oleh Iran, berdampak besar pada ekonomi global dan akibat jalur pengiriman minyak dari Teluk Persia ke pasar internasional akan terganggu, sehingga harga minyak bisa melonjak.
Dampaknya bagi Indonesia antara lain:
– Meningkatnya Harga Minyak: Harga minyak dunia yang naik bisa membuat pemerintah Indonesia harus mengeluarkan anggaran lebih besar untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).
– Bengkaknya Anggaran Subsidi: Subsidi BBM yang meningkat bisa membebani APBN dan mempengaruhi kebijakan fiskal pemerintah.
– Dapat mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia
Apakah kemungkinan Iran akan mendapatkan dukungan dari Rusia dan China jika terus terjadi agresi dari Israel atau Amerika Serikat.
Rusia sudah lama menjalin hubungan erat dengan Iran, baik secara politik maupun militer. Mereka bahkan telah menggunakan drone kamikaze ‘Shahed’ produksi Iran dalam invasi ke Ukraina.
Rusia mungkin akan memberikan dukungan tidak langsung, seperti transfer sistem pertahanan udara S-400, yang dapat membantu Iran menghadapi jet tempur generasi kelima Israel seperti F-35.
Sementara itu, China mengambil pendekatan lebih berhati-hati. Mereka mengutuk tindakan Israel dengan bahasa keras, tapi tidak menunjukkan dukungan militer secara terbuka.
Namun, ada indikasi dukungan teknologi siber dari China kepada Iran, seperti serangan siber ke sistem pertahanan digital Israel sebelum serangan besar pada Juni lalu.
Jadi, Iran mungkin tidak sendirian dalam menghadapi agresi, tapi perlu diingat bahwa situasi geopolitik sangat dinamis dan bisa berubah cepat.
Sumber: Pimpinan Redaksi PH45.id














